Kamis, 18 April 2013

Askep Pleuritis



BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Penyakit saluran pernapasan adalah salah satu penyebab kesakitan dan kematian yang paling sering. Pleuritis adalah peradangan pada pleura disebabkan penumpukan cairan dalam rongga pleura, selain cairan dapat pula terjadi karena penumpukan pus atau darah.
B.     Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan adalah:
1.      Untuk mengetahui pengertian pleuritis
2.      Untuk mengetahui pnyebab pleuritis
3.      Untuk mengetahui komplikasi yang ditimbulkan pleuritis
4.      Untuk mengetahui perawatan terhadap penderita pleuritis
5.      Untuk memenuhi persyaratan pembelajaran sistem respirasi keperawatan
C.     Manfaat penulisan
Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan ini adalah:
1.      Sebagai bahan pembelajaran
2.      Sebagai sumber referensi untuk kemajuan perkembangan ilmu keperawatan
3.      Sebagai bahan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
D.    Metode penulisan
Metode penulisan yang digunakan adalah Study litelatur yang mengambil referensi dari berbagai sumber yang sesuai dengan topik penulisan berdasarkan kaidah ilmiah yang berlaku.







BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian/definisi
Pleuritis adalah peradangan pada pleura disebabkan penumpukan cairan dalam rongga pleura, selain cairan dapat pula terjadi karena penumpukan pus atau darah. Pleuritis juga dapat disebut sebagai komplikasi dari efusi pleuraatau penyakit pada pleura.
Pleuritis terbagi menjadi 2,yaitu:
·         Pleuritis kering (fibrosa)
Peradangan pada pleura tanpa atau hanya sedikit pengeluaran cairan.
·         Pleuritis basah (setofirosa)
Terjadinya penimbunan cairan dibuang pleura disebut juga pleura efusi cairan yang berisi di pleyra dapat berupa:
-exudate
-transudate
B.     Etiologi
Penyebab terjadinya pleuritis:
1.      Virus dan mikoplasma
Jenis virusnya adalah: ECHO virus, Coxsackie group, dan mikroplasma.
2.      Virus piogenis
Bakteri yang sering ditemukan adalah aerob dan anaerob, bakteri-bakteri aerob meliputi streptucocus, strestucocus miler, streptucocus aures, hemofilus.
Spp,E.koli, klebsieda, psuedomonas spp. Bakteri-bakteri anaerob meliputi bakterioides spp, peptostreptococus, fusobakterium.
3.      Tuberkulosa
Selain konflikasi tuberkulosa, juga dapat disebabkan oleh robeknya rongga pleura atau melalui getah bening.
4.      Fungi
Pleuritis karena fungi amat jarang. Biasanya terjadi karena penjalaran infeksi fungi dari jaringan paru-paru. Jenis fungi yang menyebabkan pleuritis adalah aktinomikosis, aspergillus, triptococus, histoplasmusis.
5.      Parasit
Parasit yang mengipasi kedalam raga pleura hanyalah amoeba dalam bentuk troposoit.
C.     Patofisiologi
Ketika kedua membran yang mengalami inflamasi atau bergesekan selama respirasi (terutama inspirasi), akibatnya nyeri hebat, tersa tajam seperti tusukan pisau. Nyeri dapat menjadi minimal atau tidak terasa ketika nafas ditahan atau dapat menjalar ke bahu audomen kemudian sejalan dengan terbentuknya cairan pleura, nyeri akan berkurang pada periode dini ketika terkumpul sedikit cairan, esekan, fiksi pleura dapat terdengar dengan steteskop, hanya akan menghilang kemudian bila telah berkumpul cairan dan memisahkan pleura yang mengalami inflamasi.
Pleuritis dapat terjadi  dengan pneumonia atau infeksi traktus resfiratori atas tuberkulosis, penyakit kolagen, infrak paru atau embolisme paru, pada kanker primer metastatik dan setela torakatomi.
D.    Manifestasi klinis
·         Nyeri pada dada yang diperburuk oleh bernapas
·         Sesak Napas
·         Perasaan "ditikam"
Gejala yang paling umum dari pleurisy adalah nyeri yang umumnya diperburuk oleh penghisapan (menarik napas). Meskipun paru-paru sendiri tidak mengandung syaraf-syaraf nyeri apa saja, pleura mengandung berlimpah-limpah ujung-ujung syaraf. Ketika cairan ekstra berakumulasi dalam ruang antara lapisan-lapisan dari pleura, nyeri biasanya dalam bentuk pleurisy yang kurang parah. Dengan jumlah-jumlah akumulasi cairan yang sangat besar, ekspansi dari paru-paru dapat dibatasi, dan sesak napas dapat memburuk.
Gejala radang pada awalnya dimulai dengan ketidak tenangan, kemudian diikuti dengan pernafasan yang cepat dan dangkal. Dalam keadaan akut, karena rasa sakit waktu bernafas dengan menggunakan otot-otot dada, pernafasan lebih bersifat abdominal.
Kekurangan oksigen yang disebabkan oleh teksemia dan akibat radang paru-paru yang mengikutinya, penderita dapat mengalami kematian setiap saat. Pada radang pleura penderita nampak lesu karena adanya penyerapan toksin (toksomia) proses kesembuhan dapat pula terjadi, meskipun diikuti dengan adesi pleura.
E.     Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan:
·         Dengan ronsen dada
·         Pemeriksaan sputum
·         Pleura punksi
·         Biopsi pleura
F.      Pemeriksaan penunjang/diagnostik
Nyeri dari pleuritis adalah sangat khusus. Nyerinya di dada dan biasanya tajam dan diperburuk oleh bernapas. Bagaimanapun, nyerinya dapat dikacaukan dengan nyeri dari:
·         Peradangan sekitar jantung (pericarditis)
·         Serangan jantung (myocardial infarction)
·         Kebocoran udara didalam dada (pneumothorax)
Untuk membuat diagnosis dari pleuritis, dokter memeriksa dada pada area nyeri dan seringkali dapat mendegar (dengan stethoscope) friksi (gesekan) yang dihasilkan oleh gosokan dari dua lapisan pleura yang meradang dengan setaip pernapasan. Bunyi yang dihasilkan oleh suara ini diistilahkan sebagai pleural friction rub. (Berlawanan dengannya, friksi dari gosokan yang terdengar dengan pericarditis adalah serempak dengan denyut jantung dan tidak berubah dengan pernapasan). Dengan jumlah-jumlah yang besar dari akumulasi cairan pleural, disana mungkin ada suara-suara pernapasan yang berkurang (suara-suara pernapasan yang kurang didengar melalui stethoscope) dan dada bunyinya tumpul ketika dokter mengetuk diatasnya (ketumpulan atas ketukan).
G.    Komplikasi
Adapun komplikasi dari pleuritis yaitu efusi pleura.
Efusi pleura sendiri adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan alam pleura berupa transudut atau eksudat yang diakibatkan terjadinya ketidak seimbangan antara produksi dan absorpsi dikapiler dan pleura viseralis.
H.    Pengobatan/perawatan
Jika cairan pleural menunjukan tanda-tanda infeksi, perawatan yang tepat melibatkan antibiotik-antibiotik dan pengaliran dari cairan. Jika ada nanah didalam ruang pleural, tabung pengaliran dada harus dimasukan. Prosedur ini melibatkan penempatan tabung didalam dada dibawah pembiusan total. Tabung kemudian disambungkan ke ruang yang disegel yang dihubungkan ke alat pengisapan dalam rangka untuk menciptakan lingkungan tekanan negatif. Pada kasus-kasus yang berat, dimana ada jumlah-jumlah yang besar dari nanah dan jaringan parut (adhesions), ada keperluan untuk "decortication". Prosedur ini melibatkan pemeriksaan ruang pleural dibawah pembiusan dengan scope khusus (thoracoscope). Melalui alat seperti pipa, jaringan parut, nanah, dan puing-puing dapat diangkat. Adakalanya, prosedur operasi terbuka (thoracotomy) diperlukan untuk kasus-kasus yang menyulitkan.
Pada kasus-kasus dari pleural effusion yang berakibat dari kanker, cairan seringkali berakumulasi kembali. Pada tatacara ini, prosedur yang disebut pleurodesis digunakan. Prosedur ini memerlukan menanamkan iritan, seperti bleomycin, tetracycline, atau bedak talc, didalam ruang antara lapisan-lapisan pleural dalam rangka menciptakan peradangan. Peradangan ini, pada gilirannya, akan melekatkan dua pleura bersama ketika luka parut berkembang. Prosedur ini dengan demikian melenyapkan ruang antara pleura dan mencegah akumulasi kembali dari cairan.




Asuhan keperawatan
       I.            Pengkajian
Data biografi:
Data biografi biasanya meliputi nama pasien, umur, jenis kelamin, agama, suku/bangsa, dan data pasien lainnya.
Riwayat penyakit saat ini:
Pengkajian penyakit RPS yang mendukung keluhan utama dilakukan dengan mengajukan serangkaian pertanyaan mengenai nyeri dada pada klien yang meliputi: seperti apa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Sifat nyeri dapatseperti tertekan, diperas, atau diremas.
Riwayat penyakit dahulu:
Pengkajian riwayat penyakit dahulu akan sangat mendukung kelengkapan data dan kondisi saat ini. Data ini diperoleh dengan mengkaji apakah klien pernah menderita nyeri dada. Catat adanya efek samping yang terjadi dimasa lalu, alergi obat, dan reaksi alergiyang timbul.
Riwayat penyakit keluarga:
Perawat senantiasa harusmenanyakan tentang penyakit yang pernah dialami oleh keluaga. Anggota keluarga yang meninggal dan dan penyebab kematian.
Penkajian psikososial:
Pengkajian psikososial meliputi apa yang dirasakan klien terhadap penyakitnya, bagaimana cara mengatasinya, serta bagaimana perilaku klien terhadap tindakan yang dilakukan kepada dirinya.
Pemeriksaan fisik
Pernafasan:
a.       Inspeksi: peningkatan usaha dan frekuensi pernafasan yang disertaipenggunaan otot bantu pernafasan. Gerakan pernafasan ekspansi dada yang simetris (pergerakan dada tertinggal pada sisi yang sakit), rongga dada asimetris (cembung pada sisi yang sakit).
b.      Palpasi: pada palpasi ditemukan pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit
c.       Perkusi: suara perkusi redup hingga pekak tergantung dari jumlah cairan
d.      Auskultasi: suara nafas menurun sampai menghilang pada sisi yang sakit
Darah:
Palpasi dilakukan untuk menghitung frekuensi jantung (heart rate) dan harus memperhatikan kedalaman dan teratur tidaknya denyut jantung. Tindakan perkusi dilakukan untuk menentukan batas jantung daerah mana yang terdenar pekak.
Otak:
Pada saat dilakukan inspeksi, tingkat kesadaran perlu dikaji, setelah diperlukan pemeriksaan GCS untuk menentukan apakah klien berda dalam keadaan compos mentis, somnlen, atau koma. Selain itu juga perlu dikaji seperti pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan, dan pengecapan.
Kandung kencing/urine:
Pengukuran volume output urine dilakukan dalam hubungannya dengan intake cairan. Oleh karena itu, perawat perlu memonitor adanya oliguria, itu merupakan tanda awal syok
Tulang:
Hal yang perlu diperhatikan adalah adakah edema peritibial, feel pada kedua ekstremitas untuk mengetahui tingkat perfusi perfer, serta dengan pemeriksaan capillari refill time. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kekuatan otot untuk kemudian dibandingkan antara bagian kiri dan kanan

    II.            Diagnosis keperawatan
No
Diagnosa keperawatan
Tujuan dan kriteria hasil
Intervensi/
pelaksanaan
rasional
1.
Yeri akut, berhubungan dengan proses penyakit
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam , pasien mampu :
Pain level,
Pain control,
Comfort level
Dengan kriteria hasil :
Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri , mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri , mencari bantuan ).
Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
Mampu mengenali nyeri ( skala , intensitas , frekuensi ,dan tanda nyeri ).
Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang .
Tanda vital dalam rentang normal .
Tanyakan pasien tentang nyeri, tentukan karakteristik nyeri

Kaji pernyataan verbal dan nonverbal nyeri pasien

Dorong menyatakan perasaan tantang nyeri
membantu pasien dalam mengkaji tingkat nyeri dan meningkatkan kontrol nyeri

ketidak sesuaian antara petunjuk verbal/nonverbal dapat memberikan petunjuk derajat nyeri.

Takut/masalah dapat meningkatkan ketegangan otot dan menurunkan ambang persepsi nyeri.
2.
Kurang pengetahuanberhubungan dengan faktor-faktorpencetus pleuritis
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam,pasien mampu:
Kowlwdge:disease process
Kowledge: health bahavior
Dengankriteria hasil :
Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit,kondisi,prognosis dan program pengobatan pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang di jelaskan secara benar pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang di jelaskan perawat/tim kesehatan lainnya
Diskusikan pentingnya melaporkan pengawasan jadwal pemeriksaan laboratorium dan kunjungan dokter
Pengawasan medic penting bila terapi antikoagulan mungkin terganggu/dihentikan tergantung informasi yang didapat
3.
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler –alveolar .
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam,pasien mampu:
Respiratory status : gas exchange
Respiratori statas : ventilation
Vital sign status
Dengan kriteria hasil :
Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat .
Memelihara kebersihan paru-paru dan bebas dari tanda-tanda distress pernapasan
Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih,tidak ada sianosis dan dispnea(mampu mengluarkan sputum,mampu bernafas dengan mudah ,tidak ada pursed lips)
Tanda-tanda vital dalam rentang normal.
Evaluasi tingkat toleransi aktivitas. Berikan lingkungan tenang dan kalem batasi aktivitas pasien atau dorong  untuk tidur/istirahat. Mungkinkan pasien melakukan aktivitas secara bertahap dan tingkatkan sesuai toleran individu
Selama distres pernafasan berat pasien secara total tidak dapat melakukan aktifitas sehari-hari karena dispnea. Istirahat diselingi aktivitas perawatan masih penting dari program pengobatan. Namun program latihan ditunjukkan untuk meningkatkan ketahanan dan kekuatan tanpa menyebabkan dispnea berat, dan dapat meningkatkan rasa sehat.
4.
Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidak seimbangan suplai dan kebutuhan oksigen
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam, pasien mampu :
Energy conservation
Akticity tolerance
Self Care : ADLs
 Dengan kriteria hasil :
Berpatisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah,  nadi dan RR
Mamapu melakukan aktivitas sehari hari ( ADLs ) secara mandiri
Evaluasi respons pasien terhadap aktifitas. Catat laporan dispnea, peningkatan kelemahan/kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktifitas

Jelaskan pentingnya istirahat dalam perencanaan pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat
Menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi







Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolik, menghemat energi untuk penyembuhan. pembatasan akivitas ditentukan dengan respons indifidual pasien terhadap aktifitas

 III.            evaluasi
berdasarkan implementasi yang dilakukan, maka evaluasi yang diharapkan untuk klien dengan gangguan sistem pernafasan pleuritis adalah:
ü  tanda-tanda vital stabil
ü  kebutuhan oksigen terpenuhi(tidak sesak)
ü  klien dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri
ü  klien merasa nyaman, infeksi tidak terjadi dan keluarga klien mengerti  tentang penyakit yang diderita.









BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
 Dari materi yang penulis buat dalam makalah yang cukup sederhana ini, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa penyakit PLEURITIS disebabkan oeh beberapa faktor. Sebagian besar penyebabnya adalah virus,jamur dan parasit.Pleuritis sangat mudah menjadi suatu masalah yang kritis apabila salah satu atau dua-duanya dari penyakit tersebut tidak segera ditangani akan dapat menimbulkan masalah yang berat. Untuk itu kita harus selalu menjaaga kebersihan dan kesehatan tubuh kita dengan menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan timbulnya suatu penyakit.
B.Saran
            Dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari tentu banyak terdapat kesalahan dan kekurangn dalam penusunan kosep makalah dan konsep askep diatas. Untuk itu penulis sangat mengharapkan dukungan yang berupa kritik dan masukan yang membangun agar kedepan lebih baik. Dan penulis juga berharap, melalui makalah yang sangat sederhana ini, kita sebagai manusia yang berakal dan mandiri harus menghindari diri dari fakto-faktor yang dapat menimbulkan penyakit tersebut.











DAFTAR PUSTAKA


Doengoes Marilynn dkk.2000. rencana asuhan keperawatan edisi3. Jakarta: EGC
Mutaqqin arif.2012. asuhan keperawatan klien dengan gangguan sistem pernafasan. Jakarta: Selemba Medika
http://regianamanah.blogspot.com/ tanggal unduh:3 april 2012





 
KATA PENGANTAR

            Alhamdulilah penulis sampaikan kehadirat Allah SWT atas berkat,rahmat dan karunia-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah tentang PLEURITIS. Makalah ini disusun dalam rangka melengkapi sebagian dari syarat perkuliahan pada Program Study Ilmu Kepeawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiah Bengkulu.
            Pada kesempatan inipenulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada semua dosen pembimbing dan pihak yang telah memberikan bantuan,saran dan nasehat untuk kesempatan menyusun makalah ini.
            Insyaallah jasa-jasa mereka akan penulis kenang sepanjang hayad dan semoga allah yang mahakuasa memberi yang terbaik dan ridho-nya kepada kita semua dikehidupan sekarang dan yang akan datang.
Penulis sadar bahwa kesempurnaan hanya milik allah yang maha sempurna,makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,kritik dan saran yang membangun dari pembaca penulis harapkan. Penulis juga berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.


                                                            Bengkulu, April 2012



                                                                        Penulis




ii
 
 
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ..................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................................... iii
BAB1 PENDAHULUAN
A.     Latar belakang ............................................................................................... .... 1
B.     Tujuan penulisan ................................................................................................ 1
C.     Manfaat penulisan .............................................................................................. 1
D.     Metode penulisan ............................................................................................... 1
BAB2 PEMBAHASAN
A.    Definisi................................................................................................................ 2
B.     Etiologi ............................................................................................................... 2
C.     Patofisiologi ........................................................................................................ 3
D.    Manifestasi klinis ................................................................................................ 3
E.     Pemeriksaan fisik................................................................................................. 4
F.      Pemeriksaan penunjang....................................................................................... 4
G.    Komplikasi ......................................................................................................... 5
H.    Pengobatan ......................................................................................................... 5
I.       Asuhan keperawatan ........................................................................................... 6
BAB 3 PENUTUP
A.    Kesimpulan ......................................................................................................... 12
B.     Saran ...................................................................................................................
iii
 
12

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar